Aku terpaku.
Seperti malam-malam sebelumnya di
jam yang sama pula. Aku selalu mencari cara agar bisa bersandar padamu. Ingatkah
Bu, ketika aku mendekatimu dan mencoba bersandar di pundakmu? Kau selalu bilang
tubuhku berat, lalu mendorongku perlahan dan kau pun menjauh.
Sejak saat itu aku melakukan diet
ketat dan olah raga gila-gilaan, Bu. Aku ingin menjadi ringan agar tak
membebanimu ketika aku bersandar di pundakmu. Ku kira usahaku berhasil… Berat
badanku hanya 42 Kg saat aku pulang menemuimu sebulan yang lalu. Tapi ternyata
aku tak cukup ringan untuk bersandar di pundakmu yang semakin rapuh. Aku tahu
kau menua, Bu. Karena itu aku tetap tersenyum ketika kau mendorongku untuk yang
kesekian kalinya saat aku berusaha bersandar padamu.
Tapi aku tak pernah berputus asa,
Bu. Aku bahkan membeli pil-pil ini agar tubuhku semakin ringan. Dan ku yakin malam
ini engkau pasti tak akan menolakku untuk bersandar padamu. Tubuhku tak lagi
berat, Bu. Aku seringan kapas. Atau mungkin, malah lebih ringan dari itu.
Karena sejak tadi aku bisa terbang dan mengambang di udara.
.
Aku ringan, Bu. Ringan sekali.
Tolonglah kali ini jangan
menolakku lagi.
Karena aku, hanya ingin bersandar...
2 komentar:
Bersandar di pundak Ibu rasanya "beban" yang selama ini dipikul merasa ringan ya meski hanya sementara.
Iyaa mbak, betul sekali...pundak Ibu adalah tempat ternyaman di dunia :)
Posting Komentar