Remuk redam
Entah rasa apa lagi
yang bisa aku lawan
Nelangsa dalam kenikmatan
mengenangmu untuk diriku sendiri
Di tengah rintik
hujan sore yang tiap tetesnya
menyia-nyiakan penyangkalan yang aku bangun
Ini sakit, sayang…
Wangi tanah basah dan
daun-daun segar yang menguar bagai obat bius membekap hidungku
Ia ciptakan
potongan-potongan gambar terangkai tentang pertemuan terakhir
Demi butir air mata
yang jatuh dua-dua
Oleh kalimat-kalimat
cinta dan denting lagu mana lagi ku beri tahu?
Diamku yang angkuh
bagai angin panas bulan Mei
Olehmu terpikirkah?
Aku yang diam tetap
memelihara rindu dan berharap Tuhan sudi menetapkanmu menjadi takdirku
Tidakkah kau mengerti
sulitnya mencukupkan diriku dengan bahagiamu saja?
Mencintai tak harus
memiliki kata mereka
Omong kosong!
Jemari kelingking
yang pernah terkait tak akan pernah rela, karena…
Obor yang pernah kau
kobarkan di dalamku telah membakar diriku seluruhnya
Bandung, 24 Januari 2014
0 komentar:
Posting Komentar